SKRIPSI REKLANTAS NASRUN 17 630 006
NAMA : NASRUN
NPM : 17 630 006
REKAYASA LALU LINTAS
ANALISIS TINGKAT KEPADATAN LALU LINTAS
DI
KECAMATAN DENPASAR BARAT
Oleh
Julia
Vironika
Ida Bagus Made Astawa, I Putu Ananda Citra *) Jurusan Pendidikan Geografi, Undiksha Singaraja e-mail : juju.niblly@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan
di Kota Denpasar, Kecamatan Denpasar
Barat dengan
tujuan untuk:
(1) mengidentifikasi kondisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat, (2) mengidentifikasi
karakteristik pengguna jalan di
Kecamatan Denpasar Barat dan, (3) menganalisis tingkat
kepadatan lalu
lintas
di Kecamatan Denpasar
Barat. Penelitian
ini
merupakan
penelitian
deskriptif,
dengan
sample yang
diambil secara “Purporsive Sampling” yaitu jaringan jalan primer dua lajur dan dua arah sebanyak 4 jalan yang
tersebar di Kecamatan Denpasar Barat.
Pengumpulan data
menggunakan metoda survai, observasi, pencatatan
dokumen,
yang
selanjutnya dianalisis dengan
metode deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) kondisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat dapat dilihat dari jenis kerusakan seperti
lubang
pada badan jalan,
retak pada badan jalan dan tambalan pada badan jalan,
(2) karakteristik pengguna jalan di Kecamatan Denpasar
Barat bervariasi dan dikaitkan dengan aksesbilitas yang
tinggi dan kenyamanan yang disesuaikan oleh tujuan moda transportasi yang
melintasi dan, (3) tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan Denpasar Barat di pengaruhi faktor langsung
seperti
panjang
jalan dan volume lalu lintas dan faktor tidak langsung seperti status jalan, bangkitan lalu
lintas, simpangan bersinyal maupun
tidak bersinyal dan
waktu.
Kata-kata kunci : Kondisi Jalan, Karakteristik Pengguna Jalan, Tingkat Kepadatan Lalu lintas
PENDAHULUAN
Kota sebagai suatu sistem jaringan kehidupan yang
ditandai dengan kepadatan
penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata ekonomi yang
heterogen dan bercorak
materialistis atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur -
unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan
corak kehidupan yang
bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah
dibelakangnya (Bintarto,
1983:36). Berdasarkan
definisi tersebut,
maka pemusatan penduduk
yang terjadi di daerah
perkotaan menyebabkan lingkungan perkotaan mengalami tekanan yang
semakin besar untuk mendukung
kebutuhan penduduk.
Kebutuhan penduduk akan diimbangi
dengan pembangunan kota. Pembangunan kota harus
berjalan tetap memperhatikan tata ruang kota. Pembangunan kota di Indonesia pada umumnya berkembang secara laissez-faire, tanpa dilandasi perencanaan menyeluruh dan
terpadu. Kota-kota di Indonesia tidak betul-betul
dipersiapkan atau direncanakan untuk dapat menampung
pertumbuhan penduduk yang
besar dalam waktu relatif
pendek (Hadi, 1993:1).
Jumlah penduduk
Kota Denpasar
pada tahun
2011, jumlah penduduk terpadat di Kota Denpasar yakni Kecamatan Denpasar Barat dengan jumlah penduduk 242.622 jiwa (30,14
%) dan diikuti Kecamatan Denpasar Selatan dengan jumlah penduduk 222.315 jiwa (27,62 %) dengan
selisih
jumlah
penduduk 20307 jiwa (2,52
%). Ditinjau
melalui definisi kota berdasarkan jumlah kepadatan penduduk
tersebut,
maka Kecamatan Denpasar Barat merupakan Kecamatan yang
memiliki kepadatan penduduk terpadat di Kota Denpasar dan memiliki kompleksitas
kebutuhan tinggi dibandingkan
kecamatan lainnya di Kota Denpasar.
Masyarakat pada hakikatnya dalam
memenuhi kebutuhannya diperlukan
adanya
mobilitas, karena masyarakat tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan sendirinya. Mobilitas
barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana transportasi yang ada di suatu daerah. Transportasi sebagai sarana mobilitas sangat penting bagi beberapa daerah
atau
wilayah
yang tersebar, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang
dan jasa sehari-hari,
serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi (Kuswati, 2009:15).
Kepadatan lalu lintas yang
terdapat di Kecamatan Denpasar Barat dipengaruhi oleh keberadaan pusat akivitas. Jumlah pusat aktivitas terdapat di panjang jalan merupakan faktor penyebab padatnya kendaraan bermotor
yang
melintasi suatu panjang jalan. Padatnya kendaraan
bermotor pada panjang
jalan akan
menyebabkan dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Permasalahan kepadatan lalu lintas tersebut diperlukan suatu
analisis tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan Denpasar Barat. Analisis
tingkat kepadatan lalu lintas
di
Kecamatan Denpasar
Barat merupakan
upaya dalam membantu
mengambil tindakan lebih
lanjut dan
mengurangi masalah lalu lintas
serta membantu dalam perencanaan tata ruang Kota Denpasar
khususnya Kecamatan Denpasar Barat. Berdasarkan latar belakang
tersebut maka yang menjadi permasalahan dari penelitian ini adalah bagaimana kondisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat, bagaimana karakteristik pengguna jalan di
Kecamatan Denpasar barat, dan bagaimana tingkat kepadatan
lalu
lintas di Kecamatan Denpasar Barat.
Untuk mengkaji permasalahan tersebut maka digunakan teori sebagai berikut: (1) Lalu lintas perkotaan
dengan permasalahan lalu lintas seperti permasalahan parkir,
permasalahan
angkutan umum, dan permasalahan pencemaran (Munawar, 2005:29-42).
Permasalahan lalu lintas di perkotaan dibutuhkan kebijakan lalu lintas perkotaan dan manajemen lalu lintas. (2)
Jalan sebagai prasarana transportasi darat dengan jenis jalan
antara lain jalan menurut fungsinya seperti jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan (Adisasmita, 2012:80 -81), jalan berdasarkan jumlah jalur, lajur dan arah seperti jalan dua lajur dua arah, jalan enam lajur
dua arah terbagi, dan jalan satu arah (MKJI
1997:
269-271). (3) Karakteristik pengguna jalan dalam transportasi darat sarana yang relevan
digunakan
saat ini yakni kendaraan bermotor Dalam
Undang-undang RI No.22 Tahun 2009 dikatakan Bahwa Kendaraan adalah suatu sarana angkut di
jalan yang terdiri atas kendaraan
bermotor dan
kendaraan tidak
bermotor. Kendaraan bermotor adalah setiap kendaraan yang
digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang
berjalan di atas rel, terdiri dari kendaraan bermotor perseorangan dan kendaraan bermotor
umum. Kendaraan tidak bermotor adalah kendaraan yang
digerakkan oleh tenaga orang atau
hewan. Terdapat karakteristik kendaraan bermotor seperti kendaraan bermotor berdasarkan
jenisnya menurut UU RI No. 22 Tahun 2009 (dalam Sibarani, 2013:1), yaitu sepeda motor,
mobil penumpang, mobil bus, mobil barang
dan
kendaraan khusus. Kendaraan bermotor
berdasarkan bina marga dibagi atas golongan mulai dari kendaraan bermuatan ringan sampai dengan yang bermuatan berat. (4) kepadatan lalu lintas
adalah rata-rata jumlah kendaraan per satuan panjang. Menghitung kepadatan lalu lintas diperlukan jumlah kendaraan dan panjang jalan yang
akan diteliti. Setiadji (2006:41) menyatakan kepadatan lalu-lintas pada suatu ruas
jaringan jalan sering dinyatakan dengan satuan mobil penumpang (smp) per satuan waktu.
Maksudnya bahwa berbagai jenis kendaraan yang
memadati jalan raya akan dinyatakan
dalam satu satuan
yang tersebut diatas. Dapat
dipahami
bahwa bus besar
maupun truk
akan
memberikan pengaruh yang lebih tinggi kepada kepadatan lalu-lintas dibanding dengan mobil
penumpang biasa. SMP, satuan untuk arus lalu
lintas dimana
arus berbagai
tipe kendaraan diubah menjadi arus kendaraan ringan (termasuk mobil penumpang) dengan menggunakan
ekivalen mobil penumpang. Tabel 01 menunjukkan satuan mobil penumpang yang
biasanya digunakan
di Indonesia yang diolah
dari berbagai
sumber termasuk
manual kapasitas jalan Indonesia ditunjukkan dalam tabel berikut.
Tabel 01 Satuan Mobil Penumpang di Indonesia
|
No.
|
Jenis kendaraan
|
Jalan raya
|
Jalan Perkotaan
|
|
1
|
Mobil penumpang, taxi, pickup, minibus
|
1
|
1
|
|
2
|
Sepeda motor
|
0,5 - 1
|
0,2 - 0,5
|
|
3
|
Bus, truk 2 dan
3 sumbu
|
3
|
2
|
|
4
|
Bus tempel,
truk > 3 sumbu
|
4
|
3
|
Sumber: Wikibook, 2012
Berdasarkan tabel satuan mobil penumpang di Indonesia, maka jumlah kendaraan yang melintasi jalan nantinya akan dikonversikan sesuai dengan jenis kendaraan dan lintasan jalan
yang dilalui, karena pada jalan
raya dan jalan perkotaan
akan
ditemui perbedaan geometrik
jalan. Hasil konversi jumlah kendaraan tersebut akan diketahui rata-rata
jumlah kendaraan
pada
panjang jalan
yang nantinya diteliti.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Berdasarkan
permasalahan yang telah dikemukakan dapat dilakukan terkait tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan Denpasar Barat.
Jumlah
populasi jaringan jalan
primer
yaitu
11 jalan. Dalam hal ini akan
ambil 4
jaringan jalan
primer dengan dua
lajur dan dua arah,
pertimbangan
tersebut diambil dikarenakan
jaringan
jalan primer dengan dua lajur dan dua arah memiliki kepadatan yang tinggi dan merupakan sistem jaringan jalan
primer
yang merupakan
simpul
pelayanan distribusi
dan jasa
untuk semua wilayah, sehingga menggunakan “Purporsive Sampling”. Pengumpulan
data
menggunakan
metode survei, observasi, dan pencatatan dokumen yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan deskriptif kualitatif yang didukung data kuantitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Mendapatkan data yang lebih rinci tentang tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan Denpasar barat digunakan metode survei dan observasi. Hasil penelitian yang dilakukan pada
empat (4) jalan di Kecamatan
Denpasar
Barat yakni:
1) Kondisi Jalan
di Kecamatan Denpasar Barat
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 4 jalan primer dengan 2 jalur dan 2 arah di Kecamatan
Denpasar Barat dapat ditmukan hasil. Melalui hasil penelitian dapat dikumpulkan data kondisi jalan
pada setiap
4 jalan primer dengan
2 jalur dan 2 arah di Kecamatan
Denpasar Barat.
Berikut ini akan
dipaparkan
masing-masing data tersebut sebagai berikut.
Tabel 02 Profil Jalan Primer 2 Lajur dan 2 Arah di Kecamatan Denpasar Barat
|
No.
|
Nama Ruas
Jalan
|
Status
|
Jenis
Perkerasan
|
Panjang
Jalan (Km)
|
Lebar
Jalan
(M)
|
Kondisi
|
|
1.
|
Jalan Gunung
Sanghyang
|
Jalan
Provinsi
|
Aspal
Beton
|
0,8
|
10,00-
25,00
|
Rusak
|
|
2.
|
Jalan Gunung
Agung
|
Jalan
Provinsi
|
Aspal
Beton
|
2,5
|
10,00-
25,00
|
Rusak
|
|
3.
|
Jalan Teuku
Umar
|
Jalan
Provinsi
|
Aspal
Beton
|
2,6
|
10,00-
25,00
|
Rusak
|
|
4.
|
Jalan Imam
Bonjol
|
Jalan
Provinsi
|
Aspal
Beton
|
6
|
10,00-
25,00
|
Sedang
|
Sumber: Pengolahan Data
Primer dan
Data
Sekunder
Berdasarkan data sekunder dan hasil observasi pada tabel 02 maka dapat ditunjukan pada
4 jalan primer dengan 2 jalur
dan 2 arah di Kecamatan
Denpasar Barat memiliki status jalan
yang sejenis yakni jalan provinsi dengan jenis perkerasan jalan yang sama yakni beraspal beton. P ada
4 jalan primer dengan 2 jalur dan 2 arah
di Kecamatan Denpasar Barat memiliki panjang
jalan yang berbeda, mulai dari yang
terpanjang Jalan Imam Bonjol dengan panjang jalan
6 Km, Jalan
Teuku Umar dengan panjang jalan 2,6 Km, Jalan Gunung Agung dengan panjang jalan 2,5 Km
dan
yang terpendek yakni Jalan Gunung Sangiang
dengan panjang jalan 0,8 Km.
lebar pada 4
jalan primer dengan 2 jalur dan 2 arah di
Kecamatan Denpasar Barat homogen dengan rentangan
lebar 10 m – 25
m, hal ini dikarenakan pada 4 jalan primer dengan 2 jalur dan 2 arah di
Kecamatan
Denpasar Barat
memiliki
status jalan
sebagai jalan
provinsi,
sehingga
dapat
dikatakan
jalan raya. Kondisi jalan pada 4
jalan primer dengan
2 jalur dan 2 arah di Kecamatan
Denpasar Barat bervariasi. Variasi kondisi jalan pada 4 jalan
primer dengan 2 jalur dan 2 arah di Kecamatan Denpasar
Barat hal ini dipengaruhi oleh jumlah lubang,
retakan dan tambalan
pada badan jalan sepanjang
jalan. Penyebab kondisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat diakibatkan
adanya bangkitan lalu lintas dan jenis
moda
transportasi yang dilihat melalui muatan satuan terberat (MST) dan
lalu
lintas (Traffic Light).
2) Karakteristik Pengguna Jalan di Kecamatan Denpasar
Barat
Berdasarkan hasil temuan karakteristik pengguna jalan dan survei ukuran lalu lintas di Kecamatan Denpasar Barat, Jalan Gunung Sanghyang
dilalui 5 jenis moda transportasi. Lima
jenis
moda
transportasi yakni kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, sepeda gayung,
angkutan umum, kendaraan roda lebih dari 4 dan bersumbu 2 dan
3. Jalan Gunung Agung dilalui
6 jenis moda transportasi yakni kendaraan roda dua, kendaraan roda
empat, sepeda gayung, angkutan umum, kendaraan roda
lebih dari 4 dan bersumbu 2 dan 3, dan delman. Jalan Teuku Umar yang
dilalui 6 jenis moda transportasi yakni kendaraan roda dua, kendaraan roda empat, sepeda
gayung, angkutan
umum,
kendaraan
roda
lebih dari 4 dan bersumbu 2 dan
3
dan
kendaraan roda lebih dari 4 dan bersumbu
4. Jalan Imam Bonjol dilalui 6 jenis moda transportasi yakni kendaraan roda dua,
kendaraan roda empat,
sepeda gayung, angkutan umum, kendaraan roda
lebih dari 4 dan bersumbu 2 dan 3 dan kendaraan roda lebih dari 4 dan
bersumbu 4.
Karakteristik pengguna jalan di
Jalan di Kecamatan
Denpasar Barat disebabkan adanya sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Pengguna kendaraan dilihat dari pekerjaan adalah
siswa, pegawai,
polisi dan buruh yang melakukan mobilitas baik ke sekolah, ke tempat kerja baik berangkat
maupun pulang kerja.
Pengguna
jalan yang mencirikan Jalan Gunung Sanghyang adalah
kuantitas polisi sebagai pengguna jalan lebih besar dibandingkan jalan
lainnya diakibatkan di jalan tersebut terdapat
Polresta Denpasar dan juga pengguna jalan
yang melintasi jalan
tersebut sebagian
besar merupakan masyarakat yang
akan melakukan kegiatan yang berhubungan Polresta Denpasar. Aspek sosial dapat dilihat bahwa
terdapat interaksi antara
tempat satu dengan tempat lainnya, seperti pasar, sekolah dan perkantoran. Aspek ekonomi dapat ditemukan
melalui tujuan
menggunakan Jalan Gunung Sanghyang untuk tujuan ekonomi seperti mobilitas kerja dan distribusi. Aspek budaya, terdapat masyarakat yang memanfaatkan jalan untuk melakukan peribadatan
menuju tempat ibadah. Aspek politik dapat dilihat dari perbatasan antara Kecamatan
Denpasar Barat dan
Kabupaten
Badung, sehingga
Jalan Gunung Sanghyang merupakan prasarana mobilitas masyarakat Kecamatan Denpasar
Barat dan Kabupaten Badung, khususnya
Kecamatan Kuta Utara. Pengguna jalan yang mencirikan Jalan Gunung Agung adalah yang mendominasi adalah aktivitas pasar, pelajar
dan guru. Dilihat dari kendaraan yang mencirikan Jalan Gunung Agung adalah terdapatnya transportasi tradisional seperti delman yang masih
beroprasi pada siang
hari. Aspek sosial dapat dilihat bahwa terdapat interaksi antara tempat satu
dengan tempat lainnya, seperti pasar, sekolah
dan perkantoran.
Aspek
ekonomi dapat ditemukan melalui tujuan menggunakan Jalan Gunung Agung untuk tujuan
ekonomi seperti mobilitas kerja dan distribusi. Aspek budaya terdapat masyarakat yang
memanfaatkan jalan untuk melakukan
peribadatan menuju
tempat ibadah. Aspek politik
dapat ditemukan
di Jalan
Gunung
Agung
dimanfaatkan sebagai sarana bersosialisasi politik
dan kepentingan
Negara.
Pengguna jalan yang
mencirikan
Jalan Teuku Umar
adalah kuantitas karyawan maupun
buruh sebagai
pengguna
jalan lebih besar di bandingkan jalan lainnya diakibatkan di jalan tersebut terdapat banyak perkantoran dan
pertokoan. Aspek sosial dapat dilihat bahwa terdapat
interaksi antara tempat satu dengan tempat lainnya, seperti pertokoaan dan
perkantoran yang
menyebabkan karakteristik pengguna
jalan. Aspek ekonomi dapat ditemukan melalui tujuan menggunakan Jalan Teuku Umar untuk tujuan ekonomi seperti mobilitas kerja dan distribusi. Aspek budaya terdapat masyarakat yang
memanfaatkan jalan untuk melakukan peribadatan menuju tempat
ibadah.
Aspek politik
dapat
ditemukan
di
Jalan Teuku
Umar dimanfaatkan sebagai sarana bersosialisasi politik dan kepentingan Negara. Pengguna jalan yang
mencirikan
Jalan Imam bonjol adalah kuantitas distributor terutama yang
menggunakan moda transportasi truk, dikarenakan di jalan
menghubungkan antara Kota Denpasar dan
Kecamatan
Kuta. Aspek sosial dapat dilihat bahwa terdapat interaksi antara tempat satu dengan
tempat lainnya,
seperti
pertokoaan dan perkantoran. Aspek ekonomi dapat ditemukan melalui tujuan menggunakan Jalan imam bonjol untuk
tujuan ekonomi seperti mobilitas kerja dan distribusi. Aspek budaya terdapat masyarakat yang memanfaatkan jalan untuk melakukan peribadatan menuju tempat
ibadah. Aspek politik
dapat dilihat dari perbatasan
antara Kecamatan
Denpasar Barat dan
Kabupaten Badung, sehingga Jalan Imam Bonjol merupakan prasarana mobilitas masyarakat Kecamatan Denpasar Barat dan
Kabupaten
Badung.
3) Tingkat Kepadatan Lalu lintas di Kecamatan Denpasar
Barat
Wilayah perkotaan
memiliki karakteristik wilayah dengan jumlah
penduduk yang
tersebar
merata. Karakteristik
wilayah
perkotaan diakibatkan adanya kebutuhan
penduduk kota dengan strata ekonomi yang heterogen dan bercorak matrealistis di bandingkan daerah belakangnya, sehingga memunculkan jenjang
area wilayah perkotaan. Pada wilayah perkotaan
memiliki jenjang
area yang berbeda sesuai dengan jenjangnya. Terdapat jenjang
area dalam
wilayah perkotaan seperti, pusat kota, daerah antara, dan daerah pinggiran. Jenjang area yang terdapat padat wilayah perkotaan khusunya Kecamatan Denpasar Barat memiliki
tingkat kepadatan
lalu
lintas yang bervariasi.
a) Jalan
Gunung Sanghyang
Berdasarkan hasil survei, Jalan Gunung Sanghyang
memiliki memiliki tingkat kepadatan
lalu
lintas tinggi pada efektif dan non efektif. Kepadatan lalu lintas
Jalan Gunung Sanghyang dipengaruhi faktor langsung oleh volume
kendaraan yang melintas dan panjang pada Jalan
Gunung Sanghyang. Kepadatan lalu lintas
hari
efektif sebesar 18823,125
SMP dengan volume kendaraan
sebesar
15058,5 SMP dan panjang jalan
0,8 Km. Kepadatan
lalu
lintas hari non efektif sebesar
13233,75 SMP dengan volume kendaraan
sebesar 10587 SMP dan
panjang jalan 0,8 Km. Kepadatan lalu lintas Jalan Gunung
Sanghyang
dipengaruhi faktor tidak langsung oleh status jalan, bangkitan lalu lintas, simpangan tak
bersinyal dan waktu. Status Jalan Gunung
Sanghyang
yakni jalan primer sekaligus jalan provinsi. Jalan Gunung Sanghyang memiliki simpangan tak bersinyal jalan yang mengarah ke Kabupaten Badung dan sekaligus Kabupaten Tabanan. Waktu
kepadatan tertinggi Jalan Gunung
Sanghyang
pada
hari efektif
adalah pada siang hari dengan volume kendaraan
5056,5 SMP, sore hari dengan volume kendaraan
5006 SMP, dan pagi hari dengan volume kendaraan 4996 SMP. Hari non
efektif
adalah
pada
sore hari dengan volume
kendaraan 3799,5
SMP, siang hari dengan volume kendaraan 3722 SMP, dan pagi hari dengan volume kendaraan 3065,5 SMP.
b) Jalan Gunung Agung
Berdasarkan hasil survei, Jalan Gunung Agung memiliki
tingkat kepadatan lalu
lintas
rendah
pada
hari efektif dan
non efektif. Kepadatan lalu
lintas Jalan Gunung Agung dipengaruhi
secara
oleh
volume kendaraan yang
melintas dan
panjang pada
Jalan Gunung Agung.
Kepadatan lalu lintas hari efektif sebesar 7067 SMP dengan volume kendaraan sebesar 17667,5
SMP dan panjang jalan 2,5 Km. Kepadatan lalu lintas hari non efektif sebesar
5020,6 SMP dengan volume kendaraan sebesar 12551,5 SMP dan panjang jalan 2,5 Km. Kepadatan lalu lintas Jalan Gunung Agung dipengaruhi faktor tidak langsung oleh status jalan, bangkitan lalu lintas, simpangan bersinyal dan tak bersinyal dan waktu. Status Jalan Gunung
Agung yakni jalan primer sekaligus jalan provinsi. Bangkitan lalu
lintas Jalan Gunung Agung seperti SMP Negeri 4
Denpasar, SMP PGRI
2 Denpasar
dan Pasar Loak
memberikan
daya tarik
dan daya dorong terhadap kepadatan lalu lintas. Jalan Gunung Agung
memiliki 2 simpangan bersinyal jalan.
Kepadatan tertinggi Jalan Gunung Agung pada hari efektif adalah pada pagi hari dengan
volume kendaraan 6027 SMP,
siang
hari
dengan volume kendaraan 5908 SMP, dan sore hari dengan volume kendaraan
5732,5 SMP. Hari non efektif pada siang
hari dengan volume
kendaraan 4632 SMP, sore hari dengan volume kendaraan 4598,5 SMP, dan pagi hari dengan volume kendaraan 3321 SMP.
c) Jalan Teuku
Umar
Berdasarkan
hasil survei,
Jalan
Teuku
Umar memiliki tingkat
kepadatan lalu
lintas
sedang pada hari efektif dan non efektif.
Kepadatan lalu lintas hari efektif sebesar 10279,4 SMP dengan volume kendaraan sebesar
26726,5 SMP dan panjang jalan 2,6
Km. Kepadatan lalu
lintas
hari
non efektif sebesar 6789,2 SMP dengan volume kendaraan sebesar 17652 SMP dan panjang
jalan 2,6 Km. Kepadatan lalu lintas Jalan Teuku Umar
dipengaruhi faktor tidak
langsung oleh
status jalan,
bangkitan lalu lintas, simpangan tak
bersinyal, simpangan
bersinyal dan
waktu. Jalan Teuku Umar memiliki status jalan provinsi. Bangkitan lalu lintas seperti pertokoan besar sepanjang Jalan Teuku Umar, hotel dan
Sekolah Tinggi Ilmu Komputer yang mempengaruhi
kepadatan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas tersebut memberikan daya tarik dan
daya dorong
terhadap kepadatan
lalu lintas. Jalan Teuku Umar memiliki 2
simpangan bersinyal dan 1 simpangan tak bersinyal. Kepadatan tertinggi Jalan Teuku Umar pada hari efektif adalah pada
pagi hari dengan volume kendaraan 9109,5 SMP, siang hari dengan volume kendaraan 8973,5
SMP, dan
sore hari dengan volume kendaraan
8643,5 SMP. Hari non
efektif pada sore hari dengan volume kendaraan 6726,5 SMP, siang hari dengan volume kendaraan 6206,5 SMP, dan
pagi hari dengan
volume kendaraan
4719 SMP.
d) Jalan Imam Bonjol
Berdasarkan hasil survei, Jalan Imam Bonjol memiliki jumlah kepadatan
lalu lintas hari efektif dan non efektif sebesar 6095 SMP dengan panjang jalan 6 Km. Kepadatan lalu lintas Jalan Imam Bonjol dipengaruhi secara oleh volume kendaraan yang melintas dan
panjang pada
Jalan Imam Bonjol. Kepadatan lalu lintas
hari
efektif sebesar 3500,75 SMP
dengan volume kendaraan sebesar 21004,5 SMP. Kepadatan lalu lintas hari non efektif sebesar 2594,25
SMP dengan volume kendaraan sebesar
15565,5 SMP.
Kepadatan lalu lintas Jalan Imam Bonjol dipengaruhi secara tidak langsung oleh status jalan, bangkitan lalu lintas, simpangan bersinyal dan waktu. Jalan Imam Bonjol memiliki
status jalan
provinsi. Bangkitan lalu lintas seperti pertokoan besar sepanjang Jalan Imam Bonjol yang mempengaruhi kepadatan
lalu lintas. Jalan Imam Bonjol memiliki
tiga simpangan
bersinyal. Kepadatan tertinggi Jalan
Imam Bonjol pada hari efektif adalah pada sore hari dengan volume kendaraan 7081,5 SMP, pagi hari dengan
volume kendaraan 7058 SMP, dan siang hari dengan volume kendaraan 6865 SMP. Hari non efektif
pada
sore hari dengan
volume kendaraan 5903 SMP, siang
hari dengan volume
kendaraan 4923 SMP,
dan pagi hari dengan volume kendaraan 4739,5 SMP.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan mengenai tingkat kepadatan lalu
lintas di
Kecamatan Denpasar Barat, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) kodisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat dominan rusak oleh jenis kerusakan. Jenis
kerusakan jalan tersebut antara lain
lubang
pada
badan jalan, retak pada badan jalan dan tambalan pada badan jalan. Melalui hasil observasi,
maka
kondisi jalan
di empat jalan
primer 2 lajur dan 2 arah antara lain; Jalan Gunung
Sanghyang,
Jalan
Gunung Agung,
Jalan
Teuku
Umar
dengan
kondisi jalan
rusak
dan
terakhir Jalan Imam Bonjol dengan kondisi jalan sedang. Kerusakan kondisi jalan di Kecamatan Denpasar Barat di akibatkan adanya kuantitas bangkitan lalu lintas, lampu lalu lintas
(Traffic Light)
dan
jenis moda
transportasi
yang dilihat
melalui
muatan
sumbu terberat (MST),(2)
terdapat perbedaan
karakteristik
pengguna jalan di
Kecamatan Denpasar
Barat. Perbedaan karakteristik pengguna jalan primer 2 lajur dan 2 arah di Kecamatan Denpasar Barat antara lain; Jalan Gunung Sanghyang didominasi kendaraan polisi, Jalan Gunung Agung terdapat Delman, Jalan Teuku Umar dan Jalan Imam Bonjol terdapat kendaraan truk sumbu 4. Selain itu karakteristik
pengguna jalan juga di pengaruhi sosial, budaya,
ekonomi dan politik, (3)
tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan Denpasar Barat bervariasi. Tingkat kepadatan
lalu
lintas di jalan
primer 2
lajur dan 2 arah antara lain; Jalan Gunung Sanghyang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi, Jalan
Gunung Agung dan Jalan Imam Bonjol memiliki kepadatan lalu lintas rendah,
Jalan Teuku Umar memiliki kepadatan lalu lintas sedang. Tingkat kepadatan lalu lintas pada
jalan primer 2
lajur dan 2 arah dipengaruhi oleh faktor langsung
dan
tidak langsung. Faktor
langsung
seperti panjang jalan dan volume kendaraan. Faktor tidak langsung
seperti status jalan, bangkitan
lalu
lintas, simpangan
bersinyal dan waktu.
SARAN
Berdasarkan simpulan diatas, maka penulis memberikan
beberapa saran yang berkaitan
dengan tingkat kepadatan lalu lintas di Kecamatan
Denpasar Barat, yaitu sebagai berikut: (1)
Bagi masyarakat Kecamatan
Denpasar Barat diharapkan
untuk tertib lalu
lintas.
Tertib lalu
lintas yang dimaksud adalah menaati rambu-rambu lalu lintas. Selain mengurangi risiko kecelakaan
lalu lintas dengan tertib lalu
lintas di Kecamatan Denpasar Barat,
juga mencegah hal-hal yang dapat merintangi, membahayakan keamanan dan keselamatan lalu lintas atau yang dapat menimbulkan kerusakan jalan di Kecamatan Denpasar Barat, (2) bagi pemerintah Kecamatan
Denpasar Barat diharapkan untuk mengembangkan kebijakan
transportasi dan
manajemen lalu
lintas di Kecamatan Denpasar Barat. Selain itu, terdapat beberapa hal yang dapat ditekan mengenai kepadatan lalu lintas seperti kebijakan kependudukan di Kecamatan Denpasar Barat.
Pemerataan bangkitan lalu lintas dan permukiman yang
berpengaruh terhadap kepadatan lalu
lintas juga perlu untuk dikaji lebih lanjut, sehingga akan memperbaiki tata ruang
kota
di Kecamatan Denpasar Barat. Peningkatan kualitas utilitas terhadap
angkutan umum dan
penambahan unit angkutan umum di Kecamatan Denpasar Barat akan mengurangi kepadatan
lalu
lintas yang
terjadi di Kecamatan
Denpasar Barat. Peningkatan kualitas dan kuantitas infrastruktur
sarana juga perlu ditingkatkan
demi
kelancaran
dan
keselamatan berlalu lintas.
DAFTAR RUJUKAN
Adisasmita, Sakti Adji.2012.
Perencanaan Infrastruktur Transportasi Wilayah. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Bintarto.
1983.Interaksi Desa-Kota Dan
Permasalahannya: Yogyakarta.
Gmalia
Hadi, Djajusman.2011.”Mengitegritaskan Pertimbangan Lingkungan Dalam Membangun Kembali Malang Raya Menuju Kota Pariwisata” dalam Jurnal FIS edisi Agustus 2011.
(hlm. 1). Malang.
Kuswati, Atik S.2009.”Kajian
Aksesbilitas dan Mobilitas di Provinsi Nusa Tenggara
Barat”.Peran
Transportasi, dalam Jurnal Volume 21, Nomor 1 (hlm.15)
MKJI.1997.Manual Kapasitas Jalan
Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Bina Marga
Munawar,
Ahmad.2005.Dasar-Dasar Teknik Transportasi. Yogyakarta: Beta Offset.
/123456789/33552/4/Chapter%20II.pdf
(diakses tanggal 1 Februari 2013).
Stiadji, Aries.2006.Studi Kemacetan
Lalu Lintas Jalan Kaliwage Kota Semarang Tesis (tidak
diterbitkan).
Program Studi Magister Teknik
Pembangunan Kota,
Undip
Semarang.
_Lalu _Lintas/Karakteristik_arus_lalu_lintas.
(diakses tanggal 27 Januari 2013)
pemilihan skripsix bgs n menambah wawasan bagi pembaca bahwa kemacetan jg dipengaruhi oleh kondisi jalan yg krng baik n karakteristik pengguna jln itu sndiri.,
BalasHapusalangkah lebih baikx disajikan dalam bentuk pdf agar susunanx lebih rapi.,
ty 🙂